Edukasi Kesehatan

Air Mineral atau Air Demineral Saat Ginjal Bermasalah: Mana yang Lebih Tepat?

7 August 2026

Ketika fungsi ginjal mulai menurun, sebagian orang segera mengganti air mineral dengan air demineral karena menganggap mineral akan “membebani” ginjal. Anggapan ini perlu diluruskan. Sampai saat ini, air demineral bukan terapi penyakit ginjal dan tidak dapat membersihkan atau memulihkan ginjal yang telah mengalami kerusakan.

Bagi pasien dengan gangguan ginjal, persoalan yang lebih penting bukan sekadar memilih air mineral atau air demineral. Jumlah cairan yang diminum, kandungan natrium, kemampuan tubuh membuang urine, tekanan darah, hasil pemeriksaan elektrolit, serta stadium penyakit ginjal jauh lebih menentukan.

Pengertian Air Mineral dan Air Demineral

Air mineral adalah air minum dalam kemasan yang mengandung mineral dalam jumlah tertentu tanpa penambahan mineral. Sementara itu, air demineral diperoleh melalui proses pemurnian seperti reverse osmosis, distilasi, deionisasi, atau proses setara yang mengurangi sebagian besar mineral terlarut.

Di Indonesia, kedua jenis tersebut termasuk kategori air minum dalam kemasan dan memiliki standar SNI tersendiri. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 62 Tahun 2024 memberlakukan SNI secara wajib untuk air mineral maupun air demineral. Dengan demikian, keduanya dapat dikonsumsi selama diproduksi sesuai standar, memiliki izin edar yang sesuai, kemasannya utuh, dan disimpan dengan benar.

Air mineral dapat menyumbang sejumlah kalsium, magnesium, dan mineral lain, meskipun kebutuhan zat gizi tetap terutama dipenuhi melalui makanan. WHO pernah meninjau dampak perubahan komposisi mineral air minum dan menegaskan bahwa kandungan air dapat ikut berkontribusi terhadap asupan zat gizi secara keseluruhan. Hal ini tidak berarti air demineral pasti berbahaya, tetapi juga tidak mendukung anggapan bahwa air tanpa mineral selalu lebih sehat.

Penyebab dan Faktor Risiko Gangguan Ginjal

Penyakit ginjal kronis terjadi ketika struktur atau fungsi ginjal mengalami kerusakan sehingga tidak mampu menyaring darah, membuang limbah, serta mengatur cairan dan mineral secara optimal. Kondisi ini sering berkembang perlahan.

Risikonya meningkat pada orang yang mengalami:

  • diabetes;
  • tekanan darah tinggi;
  • penyakit jantung dan pembuluh darah;
  • riwayat penyakit ginjal dalam keluarga;
  • usia yang semakin bertambah;
  • penggunaan obat tertentu yang berisiko merusak ginjal tanpa pengawasan tenaga kesehatan.

Diabetes dan hipertensi merupakan dua faktor penting yang perlu dikendalikan untuk membantu mencegah atau memperlambat kerusakan ginjal.

Gejala atau Tanda yang Perlu Diperhatikan

Gangguan ginjal tahap awal sering tidak menimbulkan keluhan. Pemeriksaan darah dan urine dapat mendeteksi masalah sebelum gejala menjadi jelas.

Tanda yang dapat muncul ketika fungsi ginjal memburuk antara lain:

  • bengkak pada kaki, pergelangan kaki, tangan, atau wajah;
  • perubahan jumlah atau frekuensi buang air kecil;
  • urine berbusa;
  • mudah lelah atau sulit berkonsentrasi;
  • mual, muntah, atau nafsu makan menurun;
  • kulit terasa gatal;
  • sesak napas atau bengkak yang semakin berat.

Gejala tersebut tidak selalu berarti penyakit ginjal, tetapi perlu dinilai oleh tenaga kesehatan.

Jadi, Mana yang Sebaiknya Dipilih?

Tidak ada aturan bahwa semua pasien penyakit ginjal wajib minum air demineral. Air mineral maupun air demineral yang memenuhi standar dapat digunakan, kecuali dokter atau ahli gizi memberikan rekomendasi khusus berdasarkan kondisi pasien.

Pada penyakit ginjal, natrium perlu mendapat perhatian karena asupan berlebih dapat meningkatkan retensi cairan, tekanan darah, dan pembengkakan. Namun, kandungan setiap produk dapat berbeda. Periksa informasi produk bila tersedia dan jangan hanya mengandalkan istilah “mineral”, “murni”, “RO”, atau klaim pemasaran pada kemasan.

Pasien dengan penyakit ginjal stadium awal umumnya belum tentu memerlukan pembatasan cairan. Sebaliknya, pasien dengan penyakit ginjal lanjut, produksi urine yang sangat sedikit, atau yang menjalani dialisis mungkin perlu membatasi cairan. Jumlahnya harus ditentukan secara individual; jangan memaksakan target delapan gelas atau dua liter per hari tanpa mempertimbangkan instruksi dokter.

Pencegahan dan Cara Memilih Air dengan Aman

  • Pilih air minum yang memiliki izin edar, memenuhi standar, dan kemasannya masih baik.
  • Hindari produk dengan segel rusak, bau, warna, atau rasa yang tidak normal.
  • Ikuti batas cairan yang diberikan dokter atau ahli gizi ginjal.
  • Batasi garam dan makanan tinggi natrium sesuai rekomendasi medis.
  • Kendalikan tekanan darah dan gula darah.
  • Jangan menggunakan obat pereda nyeri tertentu, herbal, atau suplemen secara sembarangan.
  • Jangan mengganti air minum sebagai pengganti pengobatan, dialisis, atau pemeriksaan rutin.

Kapan Harus Memeriksakan Diri?

Segera berkonsultasi ke dokter, puskesmas, atau rumah sakit apabila terdapat pembengkakan baru, urine berkurang, urine berbusa terus-menerus, tekanan darah sulit dikendalikan, mual berulang, atau kelelahan yang tidak biasa.

Pertolongan medis perlu dicari lebih cepat bila urine sangat sedikit atau tidak keluar, sesak napas berat, nyeri dada, kebingungan, muntah terus-menerus, atau pembengkakan meningkat cepat. Pasien yang sudah didiagnosis penyakit ginjal sebaiknya mendiskusikan jenis dan jumlah air minum berdasarkan fungsi ginjal, jumlah urine, obat, serta hasil pemeriksaan natrium, kalium, dan fosfor.

Air demineral bukan pilihan yang otomatis lebih baik untuk ginjal, sedangkan air mineral juga tidak harus dihindari oleh semua pasien. Pilihan terbaik adalah air yang aman dan memenuhi standar, diminum dalam jumlah yang sesuai dengan kondisi tubuh.

Deteksi dini, pengendalian tekanan darah dan diabetes, pola makan rendah natrium sesuai kebutuhan, serta konsultasi berkala jauh lebih penting daripada mengganti jenis air berdasarkan klaim yang belum terbukti.

Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan informasi umum, bukan sebagai pengganti pemeriksaan, diagnosis, atau penanganan medis dari dokter maupun tenaga kesehatan profesional. Konsultasikan kondisi kesehatan Anda kepada fasilitas pelayanan kesehatan yang kompeten.